Tiga (3) Antena Manusia
Manusia diberi oleh Allah tiga buah antena dalam kehidupannya yaitu panca indera, akal dan hati. Antena panca indera berhubungan dengan perbuatan. Antena akal berhubungan dengan ucapan. Antena hati berhubungan dengan niat. Manusia seharusnya memaksimalkan fungsi ketiga antena tersebut sebagai wujud rasa syukur. Sayangnya, banyak orang baru memanfaatkan akal saja sehingga kuat di ucapan atau baru panca indera saja sehingga kuat di perbuatan. Kuat di akal dan panca indera sehingga ucapan dan perbuatannya benar, atau ucapan dan perbuatannya selaras. Sangat jarang orang yang memanfaatkan antena hati yaitu niat yang benar, niat untuk mendapat ridho Allah dalam melakukan suatu aktivitas.
Sebuah ilustrasi jika ada ketua RT bicara ke warganya, “Warga sekalian yang saya hormati, hari Minggu ini kita kerja bakti ya, saya tunggu di pos keamanan jam 7 pagi”. Tetapi pada hari Minggu yang dijanjikan, saat warganya sudah berkumpul, ternyata Pak RT masih tidur di rumahnya. Ini artinya ketua RT tersebut akalnya bagus atau ucapannya bagus tetapi panca inderanya atau perbuatannya kurang bagus karena tidak menepati ucapannya. Nah, jika pak RT tersebut setelah mengajak kerja bakti dan dia hadir tepat waktu dan melaksanakan kerja bakti, tetapi setelah kerja bakti dia mengumpulkan warganya dan berkata “warga sekalian saya adalah RT yang suka menepati janji, jadi saya cocok kan kalau menjadi kepala desa?”. Pada kasus kedua ini Pak RT tersebut ucapan dan perbuatannya bagus tetapi dari sisi niatnya kurang bagus, sebab apa yang dilakukan bertujuan untuk suatu pamrih duniawi yaitu menjadi kepala desa, bukan untuk mendapatkan ridha AllahContoh kasus seperti Pak RT itu banyak terjadi di dunia nyata, orang yang kuat ucapannya tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan ucapannya. Biasanya orang seperti ini akan menjadi orang yang kurang berwibawa. Jika orang yang ucapannya bagus dan perbuatannya sesuai dengan ucapannya, tetapi niatnya tidak baik, orang ini malah kategori orang yang berbahaya. Sebab orang ini bisa melakukan kejahatan yang sulit diketahui. Kedua model manusia ini bisa dilihat pada warga negara Indonesia saat ini, baik pemimpin maupun rakyatnya. Kita sering melihat banyak pemimpin yang tidak berwibawa di hadapan rakyatnya dan banyak pemimpin yang mengorupsi uang rakyat. Pemimpin itu sebenarnya cermin dari rakyatnya. Jika suatu daerah penduduknya ingin mempunyai pemimpin yang baik, maka perbaikilah tiga antena orang-orang di daerah tersebut.
Idealnya manusia harus kuat pada tiga antenanya, karena Allah menciptakan ketiga antena itu untuk dimanfaatkan secara simultan dan terus menerus. Manusia yang baik adalah manusia yang hatinya selalu terikat pada Allah. Berniat yang benar dibarengi dengan ucapannya yang baik pula dan ditunjukkan dengan perbuatannya. Jika seorang manusia bisa seperti itu, dia akan menjadi sosok berwibawa dan dicintai banyak manusia lainnya. Supaya bisa membentuk manusia seperti itu perlu proses pembinaan dan tauladan.
sumber : Ridwan Hasan Saputra,2020,Karakter Suprarasional,Bogor,Penerbit Klinik Pendidikan MIPA

Komentar
Posting Komentar