Pekerjaan Tiga Antena Manusia

Jika dikaji lebih mendalam tiga antena manusia tersebut berhubungan dengan pekerjaan dan rezeki manusia. Jika manusia lebihdominan panca inderanya maka jenis pekerjaan yang dijalaninya biasanya bersifat rutin atau tidak berkembang, penghasilan yang diperoleh biasanya harian. Pekerjaan ini sangat tergantung dari kekuatan fisik sehingga ketika fisik sakit maka orang ini tidak bisa bekerja dan tidak bisa menghasilkan uang. Pekerja jenis ini kebanyakan pekerja informal, sangat rentan terkena krisis, seperti krisis yang disebabkan Covid-19.

Dua contoh menarik, pekerjaan yang berhubungan dengan antena panca indera yang dominan. Waktu saya kecil, ada seorang tukang baso yang lulusan Sekolah Dasar selalu berdagang berkeliling di komplek tempat tinggal saya. Setelah saya berumur 45 tahunan, tukang Baso tersebut masih berdagang berkeliling di sekitar komplek tempat saya tinggal. Berarti dia menjadi tukang baso keliling sudah lebih dari 30 tahun. Satu lagi kisah tentang pekerjaan yangdominan panca indera. Saya punya teman yang hanya lulusan SD yang berprofesi sebagai tukang becak, sampai saat ini pun profesinya masih tukang becak. Ketika saya tanya kenapa dia tidak mau mengubah profesinya dari tukang becak ke profesi lain, jawabnya bingung karena keterampilannya terbatas dan otaknya pun sudah sulit untuk diajak berpikir hal-hal yang baru. Akhirnya mungkin dia akan menekuni profesi sebagai tukang becak ini sampai dirinya tidak mampu lagi mengayuh becak atau sampai dirinya meninggal dunia.

Dua contoh itu merupakan sekelumit pekerjaan dari orang yang lebih dominan panca inderanya. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh orang yang berpendidikan rendah seperti lulusan SMP, SD atau di bawahnya. Jika sebuah negara mempunyai banyak pekerja yang dominan dalam hal panca indera maka negara tersebut sedang dalam masalah besar. Sepertinya Indonesia sedang dalam masalah besar karena berdasarkan data Badan Pusat Statistika Februari tahun 2019 dari 129,3 juta orang yang bekerja di Indonesia, sebanyak 75,37 juta jiwa (setara 58,26%) merupakan lulusan SMP atau di bawahnya. Jika dirinci lagi ada fakta yang lebih menyedihkan karena dari total jumlah orang yang bekerja sebanyak 40,51% adalah lulusan SD atau lebih rendah. Sementara lulusan SMP hanya 17,75%. Artinya porsi SD ke bawah jauh lebih tinggi daripada SMP. 

Sebenarnya ada solusi yang bisa saya berikan untuk menghadapi masalah tenaga kerja Indonesia yang mayoritas pendidikannya masih sangat rendah. Tetapi solusinya akan saya berikan nanti setelah para pembaca sudah mulai sepakat dengan konsep-konsep yang akan saya sampaikan. Saya sekarang ingin membahas pekerjaan yang dominannya akal. Pekerjaan jenis ini biasanya adalah pekerjaan yang berhubungan dengan pemikiran seperti guru, dosen, manajer, direktur, perwira, pejabat, dan sejenisnya. 

Pada umumnya pekerja yang dominan akalnya, mendapat gaji secara bulanan, umur pekerjaannya lebih lama, karena walaupun fisiknya sudah lemah, tetapi selama otaknya masih mampu untuk berpikir maka orang tersebut masih tetap bekerja. Bahkan jika sudah pensiun, orang yang dominan akalnya akan tetap bisa bekerja selama akalnya belum pikun. Jenis pekerjaan ini lebih tahan krisis karena lebih dibutuhkan banyak orang dari pada pekerja informal. Orang=orang pada posisi dominan akal biasanya mempunyai  pendidikan yang tinggi, berdasarkan data BPS tenaga kerja Indonesia yang berpendidikan tinggi dimulai dengan diploma dan universitas ada sekitar 12%. Data ini masih relatif kecil dibandingkan dengan seluruh tenaga kerja di Indonesia. Idealnya Indonesia mempunyai persentasi paling besar untuk pekerja yang dominan akalnya.

Pekerja yang dominan pada akal, seringnya protes dalam dirinya mempertanyakan keadilan Tuhan. Modal dasar yang dimiliki setiap manusia berbeda-beda. Bagi yang kurang beruntung pasti akan mempertanyakan hal ini. Misalnya masalah latar belakang ekonomi keluarga. Bagi anak yang terlahir dari keluarga kaya akan sangat mudah untuk belajar ke sekolah yang berkualitas walaupun dengan biaya yang mahal, di masa depan bisa meraih pendidikan tinggi di perguruan tinggi yang bermutu, sehingga mudah untuk mencari pekerjaan. Hal ini akan membuat iri orang-orang yang terlahir dari keluarga miskin dan tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bagi anak yang merupakan keturunan orang cerdas, secara genetika akan cenderung menjadi cerdas. Dengan kecerdasan otaknya tersebut, membuatnya tidak kesulitan untuk memilih jurusan-jurusan bergengsi di perguruan tinggi ternama. Hal ini bisa jadi menimbulkan iri orang-orang yang tidak dianugerahi otak yang encer karena orang tuanya bukan dari orang-orang yang kuat secara akal. Banyak hal-hal lain yang sifatnya duniawi yang membuat orang menjadi iri dengan orang lain dan akhirnya mempertanyakan keadilan Allah. Sebenarnya manusia tidak akan mempertanyakan keadilan Allah, jika manusia diajarkan secara menyeluruh tentang konsep 3 antena dalam kehidupan. Antena hati yang dominan adalah hal yang jarang dipikirkan orang.

Sebelum kita bahas tentang keadilan Allah, mari kita bahas pekerjaan yang dominannya antena hati. Biasanya pekerjaan dilakukan oleh orang-orang spiritualis, yaitu orang orang yang melakukan pendekatan kepada hal-hal yang gaib. Pendekatanpada yang gaib ini bisa masuk dalam dua kategori, yaitu kategori yang gaib dalam bentuk jin dan setan berarti ini kategorinyasupranatural, pelakunya biasanya disebut dukun. Ada juga kategori gaib yang urusannya dengan Allah Swt, kategori ini menurut saya disebut kategori suprarasional. Biasanya pelakunya adalah pemuka agama, dalam versi agama Islam biasanya disebut kyai atau ulama.

sumber : Ridwan Hasan Saputra,2020,Karakter Suprarasional,Bogor,Penerbit Klinik Pendidikan MIPA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Memaksimalkan Tiga Antena Manusia

Wadah Rezeki, untuk menampung Rezeki dari Tuhan