Cara Memaksimalkan Tiga Antena Manusia

Pendidikan di Indonesia seharusnya membuat tiga antena manusia bisa berperan aktif. Sebaiknya, sejak kecil kita sudah rutin mengaktifkan ketiga antena manusia agar bisa menjadi kebiasaan. Sehingga ketiga antena tersebut akan semakin kuat seiring dengan bertambah usianya. Kita mulai dengan bagaimana cara memaksimalkan fungsi panca indera. Caranya adalah dengan rutin berolahraga dan menjaga pola makan yang seimbang. Sehingga badan selalu dalam keadaan sehat agar bisa melakukan pekerjaan dengan baik dan beribadah dengan tenang. Oleh karena itu anak- anak sejak kecil harus rajin berolahraga. Sebaiknya anak-anak menguasai salah satu keterampilan beladiri agar bisa melindungi diri dari gangguan pihak luar. Sebagai orang Indonesia selain belajar ilmu beladiri dari negara luar, jangan lupakan pencak silat sebagai beladiri khas Indonesia.

Antena akal manusia akan terasah ketika manusia rajin belajar, baik dengan belajar di sekolah atau mengikuti kursus di luar sekolah. Rajin membaca buku adalah hal yang penting dalam mengasah otak manusia. Sebaiknya di masa kecil anak-anak harus difokuskan untuk banyak membaca buku, agar otaknya terampil dalam menyimpan data. Saat ini otak anak-anak banyak digunakan untuk menonton dan main game. Hal ini bagus untuk anak-anak yang ingin diasah kemampuan nalarnya asal memang gamenya bermanfaat, tetapi analisis yang tajam tanpa didukung data atau pengetahuan yang cukup di otak akan menyebabkan pengambilan kesimpulan yang keliru atau memberikan solusi yang salah. Oleh karena itu perbanyak membaca dan kurangi bermain game.

Selain membaca, menyelesaikan masalah-masalah yang ada di pelajaran sekolah seperti Matematika, IPA dan pelajaran lainnya sangat membantu mengasah kemampuan akal. Oleh karena itu ketika anak-anak hidupnya banyak masalah pelajaran yang harus diselesaikan anggaplah sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas otak. Oh ya, sebenarnya fungsi akal tidak hanya untuk berhitung atau menjawab pelajaran sekolah, tetapi juga untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Agar anak terampil memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari maka diperlukan data terlebih dahulu. Data dalam kehidupan sehari-hari diperoleh dengan cara interaksi sosial. Oleh karena itu anak-anak ketika di luar sekolah harus dibiasakan bergaul dengan teman- temannya. Bisa pergaulan dalam permainan di lingkungan luar rumah maupun dalam organisasi. Anak-anak juga harus bisa paham tentang watak, seperti: pemarah, pendiam, culas, setia, dan lain-lain. Sehingga ketika ada masalah yang bersifat sosial, bisa lebih paham bagaimana cara untuk menyelesaikannya.

Saat ini banyak orang-orang pintar yang ahli dalam Matematika atau komputer, tetapi ketika menghadapi masalah yang sifatnya sosial atau interaksi dengan orang, mereka salah dalam mengambil keputusan. Sehingga tidak jarang ditemukan orang yang pintar dan sukses dalam meraih nilai tinggi di bidang akademik tetapi gagal dalam dunia kerja. Seringnya pindah-pindah kerja karena tidak tahan berkonflik dengan teman satu kantor. Oleh karena itu sebaiknya para orang tua mempersiapkan kemampuan sosial anak dengan menganjurkan anak-anak tersebut ikut berorganisasi.

Orang-orang yang punya akal yang sehat atau cerdas disertai dengan emosi yang matang cenderung akan sukses dalam kehidupannya. Mereka bisa meraih jabatan-jabatan tinggi di organisasinya baik organisasi bisnis, organisasi sosial maupun di pemerintahan. Hanya biasanya orang yang dominan akal dan fisiknya saja akan terkenal dan diingat selama orang tersebut masih hidup. Ketika orang tersebut sudah meninggal biasanya akan dilupakan. Antena hati merupakan hal yang sangat penting yang harus disiapkan oleh manusia. Sebab antena hati ini kalau diasah akan memberikan manfaat besar bagi yang memilikinya. Cara mengasah antena hati biasanya dengan cara melakukan banyak ibadah-ibadah yang sifatnya ritual. Bagi yang beragama Islam bisa mengasah kekuatan hati melalui rajin melakukan salat, puasa, mengaji, berzikir, bersedekah, membuat buku, ceramah, dan lain-lain. Jika orang dengan antena hati, akal dan panca inderanya kuat, akan melahirkan orang-orang hebat yang namanya harum walaupun orang tersebut sudah meninggal. 

Manusia yang memiliki hati, akal dan fisiknya kuat, akan banyak menghasilkan hal-hal besar dan ajaib. Saya punya sedikit cerita. Tahun 2018, saya diminta oleh seorang pejabat Kemdikbud untuk syuting video pembelajaran Matematika dengan judul “Gemar Matematika Bersama Pak Ridwan” di TV edukasi yang merupakan bagian dari Pustekkom, sekarang menjadi Pusdatin. Proses syuting ini menurut saya penuh dengan perjuangan. Untuk menyelesaikan sekitar 25 episode dimana dalam satu episode ada 3 segmen, waktu syutingnya hanya beberapa hari, sehingga syuting terkadang dilaksanakan dari pagi sampai malam. Apalagi, saya harus berganti- ganti pakaian adat setiap episodenya. Seringkali , baju adat yang harus saya pakai kesempitan karena badan saya yang besar, sayapun harus banyak mengatur nafas selama syuting. Saya merasakan kelelahan yang luar biasa dalam syuting ini. Setelah semua syuting selesai, saya bertanya kepada pimpinan pustekkom, “Apakah video- video saya ini akan ditayangkan di TVRI atau stasiun televisi swasta lainnya?”, jawab petinggi di Pustekkom “Tidak Pak, karena kami tidak ada dana untuk membayar TVRI, jadi video-video ini hanya tayang di TV edukasi dan media sosial seperti YouTube”. Agak lemes badan saya mendengar informasi ini. Sebab impian saya, bisa tampil di TVRI dengan membawakan acara Matematika.

Seiring dengan berjalannya waktu saya semakin mengasah kemampuan hati dengan tanpa melupakan mengasah kemampuan akal saya. Banyak hal ajaib yang saya dapatkan dalam menjalani kehidupan di dua tahun terakhir ini setelah menekuni kekuatan hati. Hingga pada akhirnya, pada masa pandemi Covid-19 Kemdikbud mengadakan program “belajar dari rumah” di TVRI. Ternyata Video saya yang berjudul “Gemar Matematika Bersama Pak Ridwan” menjadi salah satu acara yang ditayangkan di TVRI.

Ada hikmah besar yang saya ambil dari kejadian ini. Pertama Allah tahu apa yang terbaik untuk kita, jika saya memaksakan diri meminta kepada Allah agar video saya ditayangkan 2 tahun lalu, tentunya penontonnya tidak seramai sekarang. Jumlah penonton sekarang pasti lebih banyak karena akibat pandemi Covid-19 para siswa diwajibkan untuk menonton acara-acara edukasi di TVRI. Akhirnya banyak siswa Sekolah Dasar yang mengenal semboyan “Belajar Matematika Bersama Pak Ridwan membuat Matematika menjadi lebih mudah!!!”.

Cerita di atas merupakan contoh gabungan kekuatan antena panca indera, akal dan hati. Jika panca indera saya tidak kuat maka saya mungkin akan sakit karena syuting dalam waktu yang sangat terbatas. Kalau akal saya tidak kuat maka tidak mungkin saya sanggup mengajar Matematika yang dianggap ilmu sulit oleh banyak belajar. Ketiga jika hati saya tidak kuat dengan banyaknya penderitaan dalam ibadah, tidak mungkin pada akhirnya video saya bisa tampil di TVRI.

Kisah saya ini merupakan salah satu dari sekian banyak kisah ajaib yang pernah saya alami. Menurut saya, Indonesia membutuhkan generasi penerus yang kuat di ketiga antena tersebut. Indonesia saat ini bukan hanya butuh akal yang sehat tetapi juga hati yang sehat. Akal sehat untuk menyelesaikan masalah yang masuk akal sedangkan hati yang sehat untuk menyelesaikan masalah yang tidak masuk akal. Hati yang sehat akan membuat manusia lebih dekat dengan Allah, sehingga masalah-masalah sesulit apapun akan dapat diselesaikan karena mendapat petunjuk dari Allah untuk menyelesaikannya. 

Supaya generasi muda kuat dalam antena hati, akal dan panca indera maka harus ada perubahan mendasar dalam pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang awalnya mengagungkan akal harus diubah dengan pendidikan yang mengagungkan hati terlebih dahulu. Pendidikan mengenal tuhannya bagi semua agama harus diajarkan sejak dini, hal ini sangat berhubungan dengan sila pertama dari Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Bagi pelajar yang beragama Islam baik di sekolah negeri, sekolah swasta atau madrasah wajib hukumnya untuk diajarkan ilmu akidah dan akhlak sejak dini. Pendidikan Indonesia pun mulai sekarang harus memberikan penghargaan besar kepada anak yang rajin beribadah dan mempunyai akhlak serta adab yang bagus. Bisa jadi rajin ibadah dan akhlak yang baik, serta olahraga jadi syarat kelulusan selain dari Matematika, IPA dan Bahasa. Sehingga pendidikan Indonesia memang ingin menguatkan hati, akal dan panca indera.

sumber : Ridwan Hasan Saputra,2020,Karakter Suprarasional,Bogor,Penerbit Klinik Pendidikan MIPA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pekerjaan Tiga Antena Manusia

Wadah Rezeki, untuk menampung Rezeki dari Tuhan