Menjadikan Allah Majikan
Jika kita bertanya : Mengapa banyak orang miskin di Indonesia ? . Berdasarkan sudut pandang berpikir suprarasional, jawabannya adalah karena kita salah memilih majikan (Raden Ridwan Hasan Saputra).
Selama ini kita bekerja kepada makhluk, bisa perorangan, lembaga, perusahaan, bahkan negara (pegawai negeri). Padahal kita pahami dan yakini kalau makhluk itu pasti punya keterbatasan. Sehingga jarang orang mendapatkan kepuasan ketika ia bekerja pada makhluk. Hal ini dibuktikan dengan sering terjadinya orang pindah kerja karena tidak puas dengan tempat kerja yang sebelumnya, atau karena ada tawaran yang lebih baik.
Jika kita memilih menjadikan Allah sebagai majikan, itu adalah pilihan yang sangat cerdas. Menjadikan Allah sebagai majikan berarti kita sudah menjadikan yang Gaib menjadi suatu bahan pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan. Dan itu adalah cara berpikir suprarasional. Jika kita meyakini Allah dan nama-nama Allah (Asmaul Husna), maka keyakinan menjadikan Allah majikan akan semakin kuat. Mari kita perhatikan Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah al-Maidah (5): 120.
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”
Jika kita meyakini Allah tempat bergantung sesuatu, maka kita pun harus menggantungkan diri kepada Allah. Jika kita bergantung kepada yang lain atau kepada makhluk, tentu gantungan tersebut tidak akan kuat. Pada akhirnya kita harus siap kecewa karena yang namanya makhluk pasti punya keterbatasan. Sesetia apa pun kita kepada perusahaan atau kepada negara, jika masanya tiba, kita akan bertemu dengan yang namanya pensiun. Bisa juga terkena PHK ketika perusahaan tidak mampu membiayai karyawannya dan sudah pasti fasilitas yang diperoleh akan berkurang.
Akan tetapi, jika kita menggantungkan diri kepada Allah atau menjadikan Allah sebagai majikan dan menjadikan diri kita sebagai karyawan Allah, maka tidak ada istilah pensiun. Bagi karyawan Allah pensiunnya adalah ketika meninggal dunia. Itu pun, ketika pada akhirnya masa “pensiun” itu datang, dan pasti akan datang, tidak akan ada pengurangan fasilitas hidup, yang ada adalah penambahan kenikmatan hidup ketika semakin bersyukur kepada Allah.
Konsekuensi kalau kita sudah menyatakan diri sebagai karyawan Allah adalah kita harus menaati aturan Allah, melaksanakan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi yang dilarang-Nya.
Gambaran sederhananya, ketika seorang karyawan dipanggil oleh pimpinannya, ia akan segera menemui dan menunaikan tugas dari pimpinannya. Ketika umat Islam sudah menyatakan diri sebagai karyawan Allah, maka ketika Allah memanggilnya, dalam bentuk panggilan adzan untuk melaksanakan shalat, segera tinggalkan semua pekerjaan dan pergilah ke masjid. Begitu juga ketika di bulan Ramadhan, laksanakanlah puasa sebulan penuh. Begitu pula dengan aturan-aturan Allah lainnya, kita harus patuhi dan laksanakan.
Ketaatan kita kepada semua aturan Allah akan menjadikan kita sebagai karyawan yang disayang Allah. Sebaliknya, jika kita kurang menaati aturan Allah, kita bisa menjadi karyawan yang sering mendapat teguran atau sangsi. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk menjadi karyawan yang disayang Allah, pasti akan banyak keuntungan yang didapat.
![]() |
| Seruan Adzan dari masjid , pertanda Allah (sbg majikan kita) meminta kita (karyawannya) utuk bersegera menghadapNya |

Komentar
Posting Komentar