Cara Berpikir Suprarasional dalam Kehidupan

Konstantinopel bisa ditaklukkan oleh sebuah generasi yang berpikir suprarasional. Sebab jika hanya berpikir rasional tidak akan ada yang percaya kalau kaum muslimin mampu menaklukkan Konstantinopel. Demikian halnya zaman sekarang, orang mungkin sulit percaya jika ada yang mengatakan bangsa Indonesia bisa mengalahkan Amerika Serikat, Cina, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Namun cara berpikir suprarasional ternyata bisa saja mewujudkan hal ini. 

Orang-orang yang yakin dengan hadist Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi Wassalam yang menyatakan Romawi Timur akan jatuh ke "tangan" umat Islam , segera menyiapkan diri sebagai pasukan yang dipilih Allah untuk manaklukkan Romawi Timur (Konstantinopel). Penyiapan diri ini dilakukan pada berbagai bidang terutama dalam membangun kedekatan mereka kepada Allah Subhanallahu Wa Ta'ala secara masif.

Kekhalifahan Turki Usmani sebagai bangsa yang menyiapkan diri untuk menaklukkan Konstantinopel menyiapkan umatnya terutama dalam ibadah ritual dan keilmuwan. Shalat tahajud menjadi kebiasaan umatnya, shalat sunnah rawatif tak pernah ditinggalkan, dan shalat lima waktu berjamaah di masjid selalu ramai dan tidak pernah ditinggalkan oleh umatnya pada masa itu. Begitu juga dengan ibadah ritual lainnya. Selain itu kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pun terus ditingkatkan.

Hal-hal tersebut memperkuat cara berpikir suprarasional. Sehingga keyakinan Konstantinopel akan bisa ditaklukkan bukan lagi sebuah hayalan namun sebuah kenyataan. Akhirnya pada tahun 1453 M , Konstantinopel pun jatuh ditangan kekhalifahan Turki Usmani di bawah kepemimpinan Khalifah Muhammad Al Fatih.

Demikian juga halnya dengan kemerdekaan Negara Republik Indonesia dari penjajah Belanda, Jepang dan sekutu merupakan "produk" dari cara berpikir suprarasional pada pemimpin pejuang kemerdekaan kala itu.

Contoh sederhana cara berpikir suprarasional adalah ketika seorang  muslim (baliq) mendengar seruan adzan sholat lima waktu , ia akan tergerak hati, pikiran dan fisiknya untuk segera menuju ke masjid melaksanakan sholat berjamaah. Ia meyakini bahwa kalau sholat berjamaah akan mendapatkan pahala 27 derajat lebih tinggi daripada sholat sendirian. Keyakinan akan mendapat pahala lebih inilah salah satu contoh cara berpikir suprarasional. Bagi seorang muslim yang berpikir rasional, mereka akan enggan hingga tidak tergerak untuk ikut sholat berjamaah. Menurut pemikiran mereka pahala itu tidak rasional, jadi buat apa dikejar. Mereka (orang-orang yang berpikir rasional), baru akan tergerak hati, fisik dan pikirannya kalau dari masjid diumumkan bahwa akan ada pembagian sembako atau BLT dari pemerintah, karena itu sesuatu yang rasional.

Contoh lain cara berpikir suprarasional adalah saat seseorang meninggalkan maksiat (perbuatan-perbuatan dosa) karena dia yakin/percaya bahwa malaikat akan mencatat semua perbuatan dosa yang dilakukannya, Allah Subhanallahu Wa Ta'ala selalu melihat, menyaksikan apapun yang dilakukannya bahkan apa yang terbetik dalam hatinya pun Allah mengetahuinya.

Jadi inti dari cara berpikir suprarasional adalah menggabungkan antara cara berpikir yang rasional dengan yang gaib. 

Rumusnya adalah Perbuatan baik = pahala , perbuatan dosa/maksiat =  siksa.

Demikian tadi uraian mengenai cara berpikir suprarasional dalam kehidupan. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

#ayomulaiberpikirsuprarasional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Memaksimalkan Tiga Antena Manusia

Pekerjaan Tiga Antena Manusia

Wadah Rezeki, untuk menampung Rezeki dari Tuhan